Untuk melengkapi berbagai hal yang sudah dibahas di dalam website ini, saya
mencoba menuliskan sebuah faktor penting dan sederhana yang mungkin dapat ikut
membantu pembaca untuk menggapai cita-cita mulia untuk melanjutkan sekolah ke
luar negeri, yaitu dengan memperlancar bahasa Inggris.
Sebagaimana jamaknya kita ketahui, bahasa Inggris merupakan lingua franca
pergaulan manusia di dunia, di samping beberapa bahasa lainnya yang juga ramai
penuturnya, seperti Spanyol, Perancis, Rusia, China dan Arab. Tapi sesuai
dengan ketetapan yang sudah disepakati bersama, Bahasa Inggris adalah yang
nomor wahidnya di antara bahasa-bahasa persatuan di dunia tersebut. Tentunya,
tidak heran kalau dalam aplikasi sekolah ke luar negeri, terutamanya ke USA,
kemampuan berbahasa Inggris yang baik menjadi salah satu faktor penentu lulus
atau tidaknya kita.
Mudah-mudahan tulisan singkat
ini bisa memberikan sedikit banyaknya gambaran bagaimana kita bisa meningkatkan
kemampuan berbahasa Inggris, tentunya disesuaikan dengan pengalaman dari
penulis sendiri.
Dua tolak ukur kemampuan
berbahasa Inggris seseorang diwujudkan dalam bentuk nilai (score) dari sistem
penilaian yang dinamakan dengan Test of English as a Foreign Language (TOEFL)
dan International English Language Testing System (IELTS). Dulunya TOEFL lebih
berorientasi untuk menilai kemampuan bahasa Inggris orang-orang yang akan
melakukan aplikasi sekolah ke USA, sedangkan IELTS berkiblat kepada negara
Inggris, negara-negara persemakmuran Britania Raya dan sebagian negara-negara
Eropa.
Sekarang, batasan geografis
penggunaan nilai kedua sistem tersebut sudah tidak berlaku lagi, karena
sebagian besar universitas di USA sudah bisa menerima sistem penilaian yang
berlaku di IELTS. Demikian juga dengan TOEFL, telah diterima di negara-negara
yang dahulunya IELTS oriented. Tentang ini mungkin akan kita bahas lebih lanjut
nantinya.
Nah, tentunya pertanyaannya
sekarang adalah bagaimana kita bisa mempersiapkan diri dalam menghadapi
berbagai bagian tes kemampuan berbahasa Inggris tersebut. Di sini saya ingin
kita mengenyahkan pendapat bahwa “hanya orang Inggris yang bisa berbahasa Inggris”.
Semua orang, asal punya kemauan
dan keinginan untuk berusaha, pasti akan bisa paling tidak ngomong cap-cus
dalam bahasa Inggris. Kita sesuaikan saja tips-nya dengan elemen umum yang
diujikan dalam kedua tes yang disinggung di atas.
1. Reading
Membaca mungkin adalah sebuah
hobi yang menyenangkan bagi seseorang, pun bisa menjadi hal yang sangat
membosankan bagi yang lain. Cuma, kalau anda termasuk kepada golongan kedua,
yang mudah bosan dalam membaca, anda harus mempertimbangkan untuk mengubah
kebiasaan ini, karena jika memang berminat untuk sekolah ke luar negeri,
dimanapun itu, membaca akan menjadi kewajiban utama anda. Di samping memang
menjadi kewajiban yang diterapkan oleh dosen pengajarnya, dari membaca tersebut
berbagai informasi dapat diserap dan tentunya akan bisa memperkaya pengetahuan
kita.
Untuk meningkatkan kemampuan
baca, sekaligus tentunya Listening—karena khusus untuk reading dalam bahasa
Inggris, sebaiknya disertai dengan mendengarkan apa yang kita baca—mulailah
dengan menggunakan bahan-bahan bacaan yang ringan. Kalau saya dahulunya paling
suka dengan komik-komik dan buku cerita berbahasa Inggris, karena biasanya
bahasa dan kata-kata yang dipakai adalah yang sederhana dan mudah
dipahami.
Tentu saja kita akan bertemu
dengan banyak kata-kata baru (new vocabulary), yang bisa dicari artinya di
dalam kamus. Saya sendiri sampai sekarang berlangganan komik dan cerita
elektronik, sehingga untuk translate vocab baru, biasanya menggunakan google
translate. Atau kalau mau arti yang lebih komplit dari suatu kata, bisa
menggunakan online dictionary dari Miriam Webster.
Kenapa menggunakan komik, cerita
atau bahan bacaan lain yang disenangi? Mudah saja jawabannya: karena biasanya
dengan mengerjakan sesuatu yang disenanginya, pasti tidak akan mudah bosan dan
lebih cepat masuk ke pikiran dan bisa gampang kembali teringat. Setelah merasa
“khatam” dengan sistem ini, bisa ditingkatkan dengan membaca koran-koran
berbahasa Inggris seperti The Jakarta Post, Jakarta Globe, Antara News dan
lain-lain.
Tentu saja di sini kita akan
menemukan banyak vocab baru yang lebih beragam serta pola kalimat yang mungkin
berbeda dari yang kita temui selama belajar bahasa Inggris. Tapi bukankah kita
bisa belajar lebih banyak lagi dengan itu? Buatlah catatan di dalam notebook
kecil yang bisa kita bawa kemana-mana dan bisa dilihat kembali kapanpun kita
mau.
Satu cara lagi yang pernah saya
aplikasikan untuk reading ini adalah dengan bekerja sebagai translator
(penerjemah). Saat masih kuliah S1 dulu, saya bekerja di rental computer milik
kakak saya dan salah satu bidang usahanya adalah menerima jasa terjemahan.
Kebanyakan menerjemahkan ragam artikel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.
Tentu saja, untuk melakukan pekerjaan ini saya harus membaca artikel tersebut
sampai ke titik komanya, untuk memahami artinya dan menerjemahkannya dengan
benar.
Cara ini memberikan kesempatan
untuk menambah vocab baru ke dalam memori, sekaligus juga menambah tebal
dompet, karena dari pekerjaan tersebut saya juga digaji per halaman hasil
terjemahannya. Salah satu kesempatan yang berlimpah adalah menerjemahkan
artikel-artikel wikipedia dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia yang caranya
bisa dilihat di halaman wikipedia ini.
Bagi yang gak mau kerja sebagai
translator pun, sebenarnya bisa dimulai membaca berbagai artikel dan jurnal
berbahasa Inggris, karena dalam perkuliahan di luar negeri, membaca artikel dan
jurnal adalah pekerjaan harian untuk mahasiswa. So, what are we waiting for?
2. Listening
Pekerjaan mendengarkan mungkin
terasa remeh dan kurang dianggap oleh banyak orang. Tapi dalam belajar Bahasa
Inggris, mendengar (listening) adalah pangkal kita memahami bahasa ini. Bisa
dimulai dengan tentunya mendengarkan media audio atau audio-visual yang
menggunakan bahasa Inggris.
Kegiatan ini akan sedikit ribet,
karena pada dasarnya bahasa Inggris mempunyai perbedaan yang nyata antara
written dan spoken words. Misalnya huruf ‘a’ dibaca ‘e’. Huruf ‘i’ dibaca ‘ai’
dan seterusnya. Tapi ini tidak akan lama menjadi masalah begitu kita
membiasakan diri mengenal bunyi kata yang diucapkan, plus disertai dengan
ekspresi wajah dari orang yang mengucapkannya.
Langkah selanjutnya, setelah
mendengarkan bunyi kata dan memperhatikan ekspresi wajah adalah menyimak
artinya. Ini bisa dilakukan dengan melihat subtitle yang ada di setiap film
berbahasa Inggris. Kita bisa melakukannya per kata, atau bahkan per kalimat.
Metode ini lebih baik dilakukan jika kita memiliki file audio-visual tersebut
(baca: film), karena jika ada satu vocab atau kalimat yang menarik perhatian
kita, kita bisa mengulang lagi ke bagian tersebut.
Menonton kembali secara
berulang-ulang sebuah film yang kita sukai juga membantu kita dalam mengingat
apa saja percakapan dan adegan yang ada di dalam film tersebut. Dan tentunya
akan sangat membantu kita memperkaya kosa-kata verbal kita.
3. Speaking
Ngomong suatu bahasa yang kita
sendiripun baru mengenalnya setelah dewasa, sangat-sangat susah untuk
dilakukan. Tapi percayalah, walaupun berat mulut kita untuk terbuka dan
mengucapkan sepatah dua patah kata “bahasa alien” tersebut, setelah sekali dua
kali ngomong, pasti akan terasa lebih mudah untuk memecah kebekuan yang
ada.
Kembali sedikit ke masalah
listening tadi, kita sudah menonton film yang kita sukai. Kita juga sudah
melihat bagaimana aktor dan aktris kesayangan kita beradegan. Pasti dengan
mudah kita bisa membayangkan kembali bagaimana mereka berdialog. Bagaimana
mimik mukanya, gerak bibirnya, bahkan bahasa tubuh dan gesture-nya pasti bisa kita
ingat.
Coba tirukan di depan cermin
‘speaking’ yang kita lakukan. Ini akan sangat membantu, karena kita bisa
mengamati bagaimana ekspresi kita sendiri di depan cermin. Mungkin jika
melakukannya bersama-sama dengan orang lain masih ada yang malu, karena takut
salah. Tapi dengan mencoba cara ini, kita bisa memperhatikan setiap detail
perkataan yang kita ucapkan.
Mulailah dengan mengucapkan kata
demi kata. Perhatikan bagaimana setiap kata tersebut kita ucapkan. Lakukan
koreksi, jika nada dan bunyi suara yang keluar menyebabkan pronunciation
(lafal) yang berbeda. Hal ini akan menyebabkan arti kata juga berbeda. Misalnya
kata “flower” dan “flour” yang nyaris bersifat homofon. Kata yang pertama
mempunyai penekanan huruf “r” dengung yang lebih kuat dibandingkan dengan kata
kedua. Dengan memperhatikan bagaimana ekspresi pengucapan kita di depan cermin,
akan membantu kita mendapatkan bentuk pengucapan yang sempurna.
Yang terakhir dari bagian ini,
menurut saya, adalah keluar dari persembunyian kita dan mencari seseorang untuk
kita melakukan praktek. Boleh jadi kita telah jago bicara dengan bayangan kita
di cermin. Sekarang bagaimana melakukannya dalam kondisi yang riil. Yang
termasuk riil di sini adalah bagaimana mengatasi rasa grogi saat berbicara
dengan menggunakan bahasa baru ini.
Banyak lembaga pendidikan bahasa
asing yang mengajak peserta didiknya untuk turun ke lapangan, biasanya ke
lokasi-lokasi wisata, mencari turis-turis asing dan kemudian mendorong peserta
didiknya untuk berbicara dengan mereka. Saya pikir, cara yang dilakukan ini
tidak akan dengan serta merta membikin para peserta didik langsung jadi jago
ngomong, tapi paling tidak akan membuat mereka menghilangkan rasa dag-dig-dug
ketika ngomong.
Ingat, gak ada kok orang bule
yang bakal “menerkam” kita kalo kita salah ngomong ke mereka. Mereka justru
menghargai usaha kita untuk bisa bicara dalam bahasa mereka, dan kadang mereka
juga turut memberikan bantuan bagaimana ngomong yang benarnya. Kalau misalnya
si bule sedang tidak ingin diganggu, ucapkan terima kasih dan cari bule yang
lain yang bersedia. Ready to try this part out?
4. Writing
Kalau untuk bagian ini, saya
masih terlalu awam. Saya hanya pernah menulis beberapa artikel ilmiah dan tidak
banyak yang bisa diberikan untuk bagian ini. Yang jelas, yang pernah saya coba
lakukan dalam hal writing adalah membuat naskahnya terlebih dahulu dalam bahasa
Indonesia, baru kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Tentu saja
jasa penerjemah elektronik seperti google translate atau Transtool bisa
dipakai.
Tetapi saya selalu menemukan
kalau susunan kalimat dan bahkan kata-kata yang digunakan banyak yang rancu.
Ujung-ujungnya tetap kita sendiri yang mengoreksi dan menulis ulang semuanya
agar benar-benar terasa sesuai dan tepat. Mulailah menulis satu paragraf saja
terlebih dahulu.
Untuk mencapai hal tersebut,
cobalah pikirkan satu kata yang mudah, yang bisa kita pakai sebagai inti
kalimat. Setelah dapat katanya, coba buat satu kalimat dengan menggunakan kata
tersebut. Setelah itu terus diperluas dengan menambahkan kalimat baru atau
dengan meng-upgrade kata-kata yang sudah digunakan dalam kalimat pertama.
Misalnya, saya terpikir kata “egg” atau telur. Bisa saja saya jadikan kata
tersebut sebagai pencetus untuk kalimat “I hate egg very much”. Itu sudah satu
kalimat. Bisa kemudian saya perluas kalimatnya menjadi “I hate egg very much
because it causes allergic reaction and makes me feel itchy everywhere” Atau
dengan menambahkan kalimat lain. “I hate egg very much. I have bad experience
with egg when I was a child. I tried to make an omelet, but I cracked a rotten
egg. It was stinky…. Bla bla bla…..” Mudah gak kira-kira?
Oke, itu mungkin panjang lebar
cerita kita tentang bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.
Tentunya itu semua dilakukan sebagai supplement (pelengkap) terhadap proses
belajar secara formal yang dilakukan di sekolah atau di tempat kursus. Yang
jelas, bahasa Inggris itu intinya adalah praktek. Melakukannya tidak bisa hanya
dengan menghafal tanpa pernah “ngomongin”.
Secara keseluruhan, jika Anda
telah menguasai bahasa ini dengan baik dan ingin mengikuti sertifikasi kemampuan
berbahasa Inggris, saya menyarankan untuk mencoba IELTS, karena menurut saya
system ini yang paling mudah dibandingkan dengan TOEFL (internet atau
paper-based).
Selamat mencoba!!