Amir Hamzah
lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara, pada 28 Februari 1911 dan
meninggal pada 20 Maret 1946 di Kuala Begumit, Binjai. Nama lengkapnya adalah Tengku Amir Hamzah Pangeran Indrapura yang
kemudian disingkat menjadi Tengku Amir Hamzah. Nama Amir
Hamzah diberikan oleh sang ayah karena kekagumannya kepada Hikayat Amir Hamzah .
Ayahanda Tengku
Amir Hamzah bernama Tengku Muhammad Adil yang bergelar Datuk Paduka Raja. Tengku Muhammad Adil adalah Pangeran (Raja Muda dan Wakil Sultan)
untuk Luhak Langkat Hulu yang berkedudukan di Binjai. Ayahanda Tengku Amir Hamzah memiliki garis kekerabatan dengan
Sultan Machmud, penguasa Kesultanan Langkat yang memerintah pada tahun
1927-1941. Berdasarkan silsilah keluarga
istana Kesultanan Langkat, Tengku Amir Hamzah adalah generasi ke-10 dari Sultan
Langkat. Garis keturunan tersebut
memperlihatkan bahwa ia adalah pewaris tahta salah satu kerajaan Melayu, yakni
Kesultanan Langkat.
Amir Hamzah
menghabiskan masa kecil di kampung halamannya. Oleh
teman-teman sepermainannya, Amir kecil biasa dipanggil dengan julukan Tengku
Busu atau "tengku yang bungsu". Said Hoesny,
salah seorang karib Amir Hamzah di masa kecilnya, menggambarkan bahwa Amir
Hamzah adalah anak laki-laki yang berparas "cantik". Ia bertubuh semampai, kulitnya kuning langsat, lehernya jenjang,
dan perkataannya lemah-lembut. Singkat kata,
Amir Hamzah di waktu kecil adalah anak manis yang menjadi favorit semua orang.
Amir Hamzah
mulai mengenyam pendidikan pada umur 5 tahun dengan bersekolah di Langkatsche
School di Tanjung Pura pada 1916. Sekolah ini
didirikan oleh Sultan Machmud Abdul Aziz, ayahanda Sultan Machmud, pada
1906.Sebagian besar guru di sekolah Amir Hamzah adalah orang Belanda, hanya ada
satu orang saja guru Indonesia.Awalnya, sekolah ini hanya berupa Sekolah Desa
dengan waktu tempuh studi 3 tahun, kemudian berubah menjadi Sekolah Melayu
dengan waktu tempuh studi 5 tahun, dan terakhir menjadi Lanngkatsche School
dengan waktu tempuh studi 7 tahun.
Setelah tamat
dari Langkatsche School, Amir Hamzah melanjutkan pendidikannya di MULO, sekolah
tinggi di Medan.Setahun kemudian, Amir Hamzah pindah ke Batavia (Jakarta) untuk
melanjutkan sekolah di Christelijk MULO Menjangan. Amir Hamzah lulus dari sekolah itu pada 1927. Amir Hamzah kemudian melanjutkan studinya di AMS (Aglemenee
Middelbare School), sekolah lanjutan tingkat atas di Solo, Jawa Tengah. Dibutuhkan disiplin ilmu di Jurusan Sastra Timur. Di Solo, pertama Amir Hamzah tinggal di asrama, yakni di kompleks
perumahan kediaman KRT Wreksodiningrat yang berlokasi di samping istana
Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kemudian Amir
Hamzah tinggal bersama keluarga RT Sutijo Hadinegoro di Nggabelen.
Amir Hamzah
adalah seorang siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi. Simak efek Achdiat K Mihardja tentang kedisplinan Amir Hamzah:
"Disiplin dan ketertiban itu nampak pula dari kondisi kamarnya. Segalanya serba beres, buku-bukunya rapih tersusun di atas rak,
pakaian tidak tergantung di mana saja, dan sprei tempat tidurnya pun licin
tidak kerisit kisut. Persis seperti kamar seorang
gadis remaja. "
Selama mengenyam
pendidikan di Solo, Amir Hamzah mulai mengasah minatnya pada sastra sekaligus
obsesi kepenyairannya. Pada waktu-waktu itulah Amir
Hamzah mulai menulis beberapa sajak pertamanya yang kemudian terangkum dalam
antologi Buah Rindu , terbit pada 1943. Ajip Rosidi
memandang puisi-puisi dalam Buah
Rindu adalah puisi Amir Hamzah pada masa-masa "latihan
kepenyairan". Demikian pula dengan anggapan
Amir Hamzah sendiri bahwa Buah Rindu hanya sebagai
latihan sebelum akhirnya ia menulis sajak-sajak sebagaimana yang terangkum
dalam Nyanyi Sunyi . Hal inilah yang menjadi alasan
mengapa puisi-puisi dalam Buah Rindu belum
menunjukkan kualitas sebagaimana yang terlihat dalam antologi Nyanyi Sunyi.
Pada waktu
tinggal di Solo, Amir Hamzah juga menjalin pertemanan dengan Armijn Pane dan
Achdiat K Mihardja.Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS Solo, bahkan
mereka satu kelas di sekolah itu. Di kemudian
hari, ketiga orang ini memiliki tempat tersendiri dalam ranah kesusastraan di
Indonesia.
Proses
kepenulisan Amir Hamzah saat di Solo merupakan proses awal yang menentukan
posisi kepenyairannya. Ini adalah proses pembentukan
dan pematangan dari seorang Amir Hamzah sebagai manusia. Intensitas proses Amir Hamzah sebagai menusia dan penyair kemudian
berlanjut ketika ia melanjutkan pendidikannya di Batavia. Dua periode ini merupakan masa proses yang paling kompleks dan
intensif dalam kehidupan Amir Hamzah.
Intensitas
pergulatan Amir Hamzah dengan berbagai peristiwa kemudian tercermin ke dalam
sajak-sajaknya. Bahkan, bisa jadi sajak-sajak
Amir Hamzah indentik dengan jalan hidupnya. Kesan seperti
ini tidak dapat dihindarkan karena sajak-sajak Amir Hamzah sepertinya secara
langsung mencerminkan fakta dan peristiwa empiris dalam kehidupan, perenungan,
serta pergulatan dan pencapaiannya di dunia sebagai manusia.
Setelah
studinya di Solo pungkas, Amir Hamzah kembali ke Jakarta untuk melanjutkan
studi ke Sekolah Hakim Tinggi pada awal tahun 1934. Selama di Jakarta, kesadaran nasional di dalam jiwa Amir Hamzah
kian kuat dan berpengaruh pada wataknya. Meskipun
keturunan raja, ia tidak pernah memperlihatkan sikap feodal. Kesadaran nasional dan kerakyatan Amir Hamzah tercermin dari
lingkungan pergaulannya, juga dari pekerjaan tambahannya sebagai pengajar di
Perguruan Rakyat, lembaga pendidikan yang merupakan bagian dari Taman Siswa, di
Jakarta. Bersama beberapa orang rekannya
di Perguruan Rakyat, temasuk Soemanang, Soegiarti, Sutan Takdir Alisyahbana,
Armijn Pane, dan lainnya, Amir Hamzah menggagas penerbitan majalah Poedjangga Baroe.
Amir Hamzah
mulai menyiarkan sajak-sajak karyanya ketika masih tinggal di Solo. Di majalah Timboel yang diasuh
Sanusi Pane, Amir Hamzah menerbitkan puisinya berjudul " Mabuk "dan" Sunyi "yang menandai debutnya di dunia kesusastraan Indonesia. Selain itu, sajak-sajaknya juga dipublikasikan di rubrik sastra Panji Pustaka asuhan Sutan Takdir Alisyahbana. Selain menulis sajak, Amir Hamzah juga menulis prosa dan esai
tentang kesusastraan. Sajak-sajak Amir Hamzah
cenderung terlihat lebih ke gaya sastra Timur.
Sejak dimuat di
majalah Timboel , karya sastra
Amir Hamzah terus muncul di berbagai media massa, misalnya di majalah Pudjangga Baroe, Pandji Poestaka, dan lain-lain. Nama Amir Hamzah mulai dikenal, dan lingkungan pergaulannya dengan
kalangan sastrawan pun mulai berlangsung intensif. Beberapa sastrawan yang saat dengan Amir Hamzah antara lain Armijn
Pane, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Muhamaad Yamin, Suman Hs,
JE.Tatengkeng, HB. Jassin, dan lainnya.
Mungkin
pencapaian karya sastra Amir Hamzah bukan pencapaian terbaik dari suatu
kelompok yang mengkhususkan diri dalam mencari kemudian menemukan semacam
Puitika yang lain sebagaimana yang terjadi di Barat. Namun, tidak dapat dihindarkan bahwa ada semacam ikatan maupun
komitmen para beberapa pemrakarsa majalah Poedjangga
Baroe yaitu, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, dan Amir Hamzah
sendiri untuk memajukan bahasa Indonesia.Penerbitan majalah Poedjangga Baroe sendiri juga merupakan
perwujudan komitmen hal tersebut.
Amir Hamzah
mewariskan dua kelompok sajak karangannya, yaitu Buah
Rindu dan Nyanyi Sunyi. Sutan Takdir
Alisyahbana mengatakan, banyak pengamat yang menilai bahwa Nyanyi Sunyi bukan hanya merupakan puncak pencapaian
kreatif Amir Hamzah, namun juga menjadi salah satu puncak untuk kepenyairan
Indonesia. Antologi puisiNyanyi Sunyi menjadi pemula
untuk sajak-sajak kemudian yang membahasakan kesunyian.
Grup sajak Amir
Hamzah yang lain, yaitu Buah Rindu , sebenarnya
cenderung merupakan semacam catatan biografi.Meskipun buku kumpulan puisi ini
terbit lebih belakangan dibanding Nyanyi
Sunyi , namun proses penulisannya lebih dahulu dibanding puisi-puisi
pada Nyanyi Sunyi . Sajak-sajak dalam puisi Nyanyi
Sunyi adalah sajak-sajak yang sublim dengan lebih melukiskan pergulatan
eksistensial sang penyair. Melalui Nyanyi Sunyi itulah kehidupan menjadi semacam ruang
filosofis yang sunyi.
Para peneliti
dan kritikus sastra yang menyimpulkan dua hal tentang bahasa puisi Amir Hamzah. Di satu sisi, ia seolah-olah terikat pada bahasa Melayu, namun di
sisi lain Amir Hamzah juga sangat bebas ketika memasukkan beberapa kata yang
berasal dari bahasa Jawa, Kawi, atau Sansekerta. Ketika membaca
sajak-sajak Amir Hamzah, tak jarang pembaca akan menemukan beberapa kata yang
bukan berasal dari bahasa Melayu, misalnya dewangga,
dewala, sura, prawira, estu, Ningrum, padma, cendera, daksina, purwa, jampi,
sekar, alas, maskumambang , dan lain sebagainya.
Amir Hamzah
mewariskan 50 sajak asli , 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan,
13 prosa , dan 1 prosa terjemahan. Total karya itu
adalah 160 tulisan. Jumlah karya tersebut masih
ditambah dengan Setanggi Timuryang merupakan
puisi terjemahan, dan terjemahan Bhagawat
Gita. Dari jumlah itu, ada juga beberapa tulisan yang tidak sempat
dipublikasikan.
Revolusi sosial
yang meletus pada 3 Maret 1946 menjadi akhir bagi kehidupan Amir Hamzah. Ia adalah korban yang tidak bersalah dari sebuah revolusi sosial
pada waktu itu. Tim Pesindo menangkapi sekitar
21 tokoh feodal termasuk di antaranya adalah Amir Hamzah yang ditangkap pada 7
Maret 1946. Kemudian, pada dini hari tanggal
20 Maret 1946, orang-orang yang ditangkap itu dihukum mati.
(Mujibur
Rohman/TAH/Bio/01/05-2011)
Referensi:
Abrar Yusra,
1996. "Amir Hamzah, Biografi
Seorang Penyair", dalam Abrar Yusra [ed.], 1996. Amir Hamzah 1911-1946 Sebagai Manusia dan Sebagai Penyair . Jakarta: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.
An. Ismanto, 2010. "Karya-karya Amir Hamzah" [Online] Tersedia di: http://www.tengkuamirhamzah.com/id/works
#[Diunduh

No comments:
Post a Comment